Jakarta (06/04/2009)-Konser musik klasik yang bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat (05/04). Konser tersebut dipadati oleh ratusan penonton serta orang tua murid dari siswa-siswi sekolah Perguruan Cikini (Percik).
Seorang psikolog kognitif dari Universitas Harvard, Howard Gardner telah mengembangkan teori intelegensi dalam bukunya "Frame of Mind: The Theory of Multiple Intellegencies (1983)" menyebutkan bahwa manusia memiliki 8 jenis intelegensi dasar, yaitu: Linguistik, Logika Matematika, Spatial, Kinestik Tubuh, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal, serta Naturalistik.
Teori ini telah menggugurkan paradigma lama yang hanya mengukur tingkat intelegensi manusia dengan cara pengukuran Intellegensi Quality (IQ) yang sama sekali tidak menyentuh substansi musikal atau juga substansi lain yang lebih menyeluruh. Anak-anak yang memiliki intelegensi musik memiliki keunggulan senang belajar musik, bernyanyi atau bermain musik, sangat mudah mengikuti irama dan umumnya peka terhadap suara-suara di lingkungan sekitar.
Untuk mengakomodir kepentingan anak-anak seperti inilah Perguruan Cikini (Percik), Sekolah Menengah Musik Percik (SMM Percik setara dengan SMA), serta Lembaga Pendidikan Musik Percik menggelar konser musik klasik dengan tema Cikini Klasika 2009 (katalog Percik).
Konser yang dimulai sejak pukul 19:30 hingga 22:00 WIB tersebut, menampilkan orkes-orkes dari sekolah musik Percik dengan tujuan melaporkan perkembangan anak kepada orang tua murid serta penonton. Yang menarik dalam acara tersebut selain dibawakan secara hikmat dan penuh emosi, pada pementasan yang memainkan lagu The Typewriter, disertai peragaan pantonim dengan gerakan-gerakan lucu diikuti dengan ilustrasi musik membuatnya menjadi menarik dan memancing gelak tawa penonton.
"Dengan segala ketebatasan tempat, menurut saya konser musik klasik ini sangat menarik. Selain melestarikan musik klasik, juga melatih anak dalam bermain musik serta mengenalkan kepada anak-anak tentang musik tersebut" ucap bpk Dandi Nasution, penggemar musik klasik dan orang tua murid siswi SMM Percik.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh kepala sekolah serta konduktor Orkestra Percik, Hari Poerwanto. "Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan siswa-siswi SMM Percik, mengembangkan pendidikan musik klasik, serta membenahi tata cara orkestra yang baik seta bermusik dengan benar." Jelas hari dalam wawancaranya disela acara.
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 April 2009
Seni Dalam Kaca Sejak Abad ke-17
Jakarta (06/04)-Pameran koleksi Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta. Menampilkan salah satu jenis seni tradisi yang telah tumbuh sejak abad ke-17 terutama pada daerah Cirebon, tanggal 3-11 April 2009.
Sejumlah lukisan di atas kaca yang berusia lama dan baru, mencerminkan bahwa jenis kesenian ini pernah menjadi benda elit. Faktor kaca sebagai hasil teknologi industri yang mahal pada saat itu serta menjadi benda pajang yang elegan di kalangan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Pada sebuah lukisan kaca tersimpan nilai luhur kebudayaan lokal dan kreativitas manusia dalam mengolah keindahan simbiotik kesenian yang sudah mentradisi sejak berabad silam.
Cirebon,merupakan salah satu kantong kebudayaan yang memiliki tradisi kuat melahirkan seniman-seniman pelukis kaca dan beragam kesenian lain seperti topeng, tari, batik, dan masih banyak lagi. Kota tersebut sangat kuat menyerap nilai sinkretisme Jawa-Pasundan, telah melahirkan kebudayaan baru yang khas, bukan Jawa dan bukan Sunda.
Seni dari Cirebon memang fenomenal oleh kemampuannya merepresentasikan kekayaan budaya hasil percampuran berabad antara Hindu, Islam, Cina, Jawa, dan Sunda. Ciri-ciri fisik karya mengandaikan berbagai prosedur kerja, seperti teknik melukis secara terbalik pada permukaan kaca tembus pandang, pewarnaan yang datar, cenderung dekoratif, dan menggunakan ragam hias khas setempat.
Seni lukis kaca Cirebonan dipertegas dengan munculnya nama Rastika dengan terobosan corak modern dengan cat semprot dan penggarapan yang lebih ekspresif. Salah satu karyanya tahun 1986 yang menggambarkan keluarga Pandawa dengan judul Pandawa Lima, Punakawan dan Kresna.
Dalam pameran "Jejak Ekspresi di Atas Kaca" hari minggu kemarin, tak tampak pengunjung yang hadir.
Sejumlah lukisan di atas kaca yang berusia lama dan baru, mencerminkan bahwa jenis kesenian ini pernah menjadi benda elit. Faktor kaca sebagai hasil teknologi industri yang mahal pada saat itu serta menjadi benda pajang yang elegan di kalangan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Pada sebuah lukisan kaca tersimpan nilai luhur kebudayaan lokal dan kreativitas manusia dalam mengolah keindahan simbiotik kesenian yang sudah mentradisi sejak berabad silam.
Cirebon,merupakan salah satu kantong kebudayaan yang memiliki tradisi kuat melahirkan seniman-seniman pelukis kaca dan beragam kesenian lain seperti topeng, tari, batik, dan masih banyak lagi. Kota tersebut sangat kuat menyerap nilai sinkretisme Jawa-Pasundan, telah melahirkan kebudayaan baru yang khas, bukan Jawa dan bukan Sunda.
Seni dari Cirebon memang fenomenal oleh kemampuannya merepresentasikan kekayaan budaya hasil percampuran berabad antara Hindu, Islam, Cina, Jawa, dan Sunda. Ciri-ciri fisik karya mengandaikan berbagai prosedur kerja, seperti teknik melukis secara terbalik pada permukaan kaca tembus pandang, pewarnaan yang datar, cenderung dekoratif, dan menggunakan ragam hias khas setempat.
Seni lukis kaca Cirebonan dipertegas dengan munculnya nama Rastika dengan terobosan corak modern dengan cat semprot dan penggarapan yang lebih ekspresif. Salah satu karyanya tahun 1986 yang menggambarkan keluarga Pandawa dengan judul Pandawa Lima, Punakawan dan Kresna.
Dalam pameran "Jejak Ekspresi di Atas Kaca" hari minggu kemarin, tak tampak pengunjung yang hadir.
Langganan:
Postingan (Atom)